Kepala dan Mercusuar

Posted on July 5, 2011

0


Suatu malam, sebuah kapal perang berlayar menembus kabut. Beberapa saat kemudian sebuah cahaya pucat muncul tepat di arah yang dituju kapal tersebut. Ketika kapal itu terus maju, cahaya menjadi semakin terang dan kapten kapal perang ini melangkah ke arah kemudi untuk memeriksa situasi. Pada saat yang bersamaan, radio kapal berbunyi, “Perhatian, memanggil kapal dengan kecepatan 18 knot di arah 220 derajat, segeralah ubah arah anda!!”

Sang kapten segera saja menjawab, “Di sini kapal arah 220 derajat. Anda yang harus mengubah arah anda!!”

Orang di seberang radio menjawab, “Negatif Kapten. Anda yang harus ubah arah!!”

“Saya Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat”, sahut sang kapten mulai marah, “Siapa anda?!”

“Saya letnan muda di penjaga pantai Amerika Serikat, Pak..”

“Kalau begitu saya perintahkan anda untuk mengubah arah!!”

“Tidak Pak. Saya sarankan anda yang ubah arah.”

“Kami adalah kapal perang dalam tugas”, sang Laksamana makin naik pitam, “Saya perintahkan anda ubah arah sekarang juga!!”

“Kami mercusuar Pak!!” jawab sang letnan muda santai…hehe
(Cerita diatas dikisahkan oleh Henry Cloud di bukunya, Integrity)

Kalo boleh dibuat perumpamaan, maka Syari’at Allah ya seperti mercusuar itu tadi. Tegak, kokoh, dan tak tergoyahkan. Kita tidak mungkin bisa meminta Allah untuk mengubah arah syari’at-Nya saat kita dilanda gejala akan menabraknya. Kitalah yang harus mengubah arah kita, menyesuaikan diri -meski harus memaksa diri- untuk mengikutinya semampu kita.

Dalam perumpamaan yang lain adalah, saat kita akan membeli helm, ternyata helm yang pertama kita coba terlalu kecil untuk ukuran kepala kita. Dalam kondisi ini, apakah kita akan memotong kepala kita supaya ukurannya pas dengan helm, atau kita akan mencari helm lain yang ukurannya lebih sesuai dengan kepala kita?? Tentu kita akan memilih helm yang lebih besar bukan? Yang dimisalkan dengan kepala adalah Syari’atnya Allah, dan yang dimisalkan dengan helm adalah hawa nafsu kita, permisalan ini jangan sampai dibalik ya, bisa kacau nanti..hehe

Saya rasa cukup sekian saja tulisan ini, tidak berpanjang lebar lagi. Semoga kita senantiasa dikarunia kemampuan dan keikhlasan untuk berupaya semaksimal mungkin mentaati syari’at Allah..

Advertisement
Posted in: i-ttaqullah