Kenapakah babi itu haram.?

Posted on April 30, 2011

4


Oke, sebelum masuk lebih jauh saya tegaskan dulu bahwasannya tidak ada maksud SARA dalam tulisan ini. Sebagimana tulisan-tulisan yang telah lalu di blog ini, saya hanya bermaksud berbagi pengalaman, nasehat, dan masukan bagi siapa saja yang berkenan.

Baiklah, kita masuk pada cerita utama. Sebagaimana tertulis di judul, taukah anda kenapa babi itu haram (bagi umat Islam)? Saya yakin bahwa anda -siapa saja yang membaca tulisan ini- akan langsung memiliki berbagai alasannya masing-masing. Nah, saya ingin berbagi sedikit pengalaman.

Cerita ini benar-benar dialami oleh seorang sodara kakak ipar saya -sebut saja si fulan- yang mengambil mata kuliah filsafat.

Suatu hari, dosen filsafat ini setelah masuk kelas, tiba-tiba saja langsung bertanya pada si fulan,
“Kamu beragama Islam bukan? Coba kamu jelaskan kenapa babi itu haram?”

Maka dengan semangat menggebu-ngebu si fulan langsung menjawab,
“Pak dosen, taukah anda, babi itu haram karena dia tidak higienis, mengandung cacing pita, penelitian kesehatan telah membuktikan bahwa babi bla bla bla…”

Nah, setelah si fulan selesai menjawab, pak dosen hanya tersenyum tipis sambil berkata ringan,
“Kalo itu jawaban kamu, maka kamu adalah seorang Muslim yang bodoh. Tidakkah kamu tau bahwa di dalam ajaran agamamu, Tuhan(Allah) telah menyebutkan bahwa babi itu haram? Maka kenapa kamu harus mencari-cari alasan yang lain?”

Dengan serta merta si fulan terdiam seribu bahasa. Yang membuat cerita ini lebih ironis lagi adalah, pak dosen filsafat tersebut bukanlah seorang penganut agama Islam. Sekali lagi tidak ada maksud SARA dalam tulisan ini, hanya menjelaskan saja.

Saya rasa sudah sering kita dengar di media-media, bagaimana keajaiban sholat dan puasa ditinjau dari sisi medis. Kemudian ada lagi kehebatan zakat untuk mengentaskan kemiskinan. Lalu alasan-alasan rasional dan ilmiah di balik rangkaian ibadah haji, dsb.

Saya tidak ada maksud menggurui pada siapapun, tapi saya rasa imannya orang sekarang ini (terutama saya sendiri) sudah sedemikian tipisnya, sehingga untuk melaksanakan suatu perintah dari Allah maupun Rasulullah kita harus mengetahui dulu alasan-alasan rasional, medis, ilmiah di balik perintah tersebut. Bukankah kita diajarkan untuk sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami ta’at) terhadap perintah/ajaran Allah dan Rasul?

Bukankah kita telah mendengar kisah ketika Allah menurunkan ayat pengharaman khamr(arak/bir, dsb)???
Maka seketika itu juga semua kaum Muslimin membuang seluruh persediaan khamr mereka sehingga jalanan kota Madinah dipenuhi genangan khamr..

Bukankah kita telah mendengar kisah ketika Allah menurunkan ayat yang mewajibkan para wanita Muslimah untuk berjilbab???
Maka seketika itu juga semua wanita Muslimah segera mengambil kain apa saja yang ada di dekat mereka untuk dikenakan sebagai jilbab..

Wallahua’lam… Semoga bermanfaat.

Advertisement
Tagged: , ,
Posted in: i-ttaqullah