Oke, sebelum masuk lebih jauh saya tegaskan dulu bahwasannya tidak ada maksud SARA dalam tulisan ini. Sebagimana tulisan-tulisan yang telah lalu di blog ini, saya hanya bermaksud berbagi pengalaman, nasehat, dan masukan bagi siapa saja yang berkenan.
Baiklah, kita masuk pada cerita utama. Sebagaimana tertulis di judul, taukah anda kenapa babi itu haram (bagi umat Islam)? Saya yakin bahwa anda -siapa saja yang membaca tulisan ini- akan langsung memiliki berbagai alasannya masing-masing. Nah, saya ingin berbagi sedikit pengalaman.
Cerita ini benar-benar dialami oleh seorang sodara kakak ipar saya -sebut saja si fulan- yang mengambil mata kuliah filsafat.
Suatu hari, dosen filsafat ini setelah masuk kelas, tiba-tiba saja langsung bertanya pada si fulan,
“Kamu beragama Islam bukan? Coba kamu jelaskan kenapa babi itu haram?”
Maka dengan semangat menggebu-ngebu si fulan langsung menjawab,
“Pak dosen, taukah anda, babi itu haram karena dia tidak higienis, mengandung cacing pita, penelitian kesehatan telah membuktikan bahwa babi bla bla bla…”
Nah, setelah si fulan selesai menjawab, pak dosen hanya tersenyum tipis sambil berkata ringan,
“Kalo itu jawaban kamu, maka kamu adalah seorang Muslim yang bodoh. Tidakkah kamu tau bahwa di dalam ajaran agamamu, Tuhan(Allah) telah menyebutkan bahwa babi itu haram? Maka kenapa kamu harus mencari-cari alasan yang lain?”
Dengan serta merta si fulan terdiam seribu bahasa. Yang membuat cerita ini lebih ironis lagi adalah, pak dosen filsafat tersebut bukanlah seorang penganut agama Islam. Sekali lagi tidak ada maksud SARA dalam tulisan ini, hanya menjelaskan saja.
Saya rasa sudah sering kita dengar di media-media, bagaimana keajaiban sholat dan puasa ditinjau dari sisi medis. Kemudian ada lagi kehebatan zakat untuk mengentaskan kemiskinan. Lalu alasan-alasan rasional dan ilmiah di balik rangkaian ibadah haji, dsb.
Saya tidak ada maksud menggurui pada siapapun, tapi saya rasa imannya orang sekarang ini (terutama saya sendiri) sudah sedemikian tipisnya, sehingga untuk melaksanakan suatu perintah dari Allah maupun Rasulullah kita harus mengetahui dulu alasan-alasan rasional, medis, ilmiah di balik perintah tersebut. Bukankah kita diajarkan untuk sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami ta’at) terhadap perintah/ajaran Allah dan Rasul?
Bukankah kita telah mendengar kisah ketika Allah menurunkan ayat pengharaman khamr(arak/bir, dsb)???
Maka seketika itu juga semua kaum Muslimin membuang seluruh persediaan khamr mereka sehingga jalanan kota Madinah dipenuhi genangan khamr..
Bukankah kita telah mendengar kisah ketika Allah menurunkan ayat yang mewajibkan para wanita Muslimah untuk berjilbab???
Maka seketika itu juga semua wanita Muslimah segera mengambil kain apa saja yang ada di dekat mereka untuk dikenakan sebagai jilbab..
Wallahua’lam… Semoga bermanfaat.

kidemang
April 30, 2011
Tak ada jawaban yang lain bagi seorang yang beriman selain Sami’na Wa Atho’na,….
Begitu pula dg perintah larangan riba,larangan membuat aturan lain selain aturan Allah (demokrasi),Sistem kepemilikan Islam, Menuruti Metode Nabi dalam Sistem pemerintahan (khilafah bukan kerajaan) dan masih banyak yg lainya yang belum kita sami’na wa atho’na,.. jadi kalo kita masih hidup nyaman dalam balutan kesyirikan yg nyata ini,… maka kita akan menyandang sebagai orang yg sami’na wa ashoyna
hanzgisymar
May 5, 2011
terima kasih sudah mampir mas boss..
sudarmanto
June 21, 2011
(mengisi waktu mumet di Bontang)
kalo menurutku han banyak iman kita menjadi tipis karena perkataan tadi -sami’naa wa atho’naa- yang belum kita pahami, kebanyakan kita kalo dapat dalil seringkali dihubungkan dengan rasional tidaknya ke otak. Sebenarnya itu menurutku malah membebani otak. Sami’naa wa atho’naa –> kami dengar dan kami taat (jika dalilnya shohih) karena yang paham kebaikan adalah Allah, yang maha berilmu adalah Allah, mungkin beberapa dalil bertentangan dengan otak kita, dengan pemikiran kita, dengan perasaan kita, tapi itu karena kebodohan kita, kejahilan kita, kemalasan dalam menuntut ilmu. Semoga dapat menjadi nasihat bagi saya pribadi dan yang membaca
hanzgisymar
June 23, 2011
sepakat mbo. Untuk bisa sami’na wa atho’na ini memang kita harus belajar dan menimba ilmu sebanyak mungkin, biar iman kita tambah kokoh..hehe